Bangga Akan Kota Dan Daerah Asal, dengan Membentuk Forum Silaturahmi atau Paguyuban

0
243

Jakarta, 31 Juli 2017

Bagi masyarakat perantau, daerah asal selalu akan menjadi kota kebanggaan. Banyak kaum pedatang atau perantau yang berasal dari daerah yang sama. Akan membuat suatu kelompok komunitas kota asal. Berbagai nama komunitas perantau dibentuk dengan tujuan ingin mempererat tali silaturahmi dan rasa memiliki serta bangga akan daerah asalnya. Terlebih lebih daerah asal mempunyai ciri khas atau hal yang bisa dibanggkan, terutama tempat wisata, makanan khas, kerajinan atau semisal kesenian tradisional.

Di Kota Jakarta hampir para perantau dari daerah membuat komunitas atau kelompok untuk berkumpul dengan macam macam nama. Contoh : Paguyuban Pasundan, suatu paguyuban yang bertujuan untuk mempertahankan budaya dan adat Sunda. Paguyuban Warga Bojonegoro, forum silaturahmi warga Bojonegoro yang berada di perantauan,  Paguyuban Warga Gunungkidul, serta masih banyak dari kota kota lain.

Forum Forum seperti ini akan sangat bermanfaat, apabila juga diisi dengan banyak kegiatan yang positif, untuk saling mengisi dan berbagi dengan sesama warga sekota asal.

Saling berbagi informasi, antara satu dan yang lain, seperti yang terjadi saat ini dengan adanya media sosail, benar benar sangat bermanfaat.

Tehnologi yang mudak diakses dengan internet  tentunya makin sangat mendukung dalam hal komunikasi tersebut. Sehingga satu sama lain yang berada di kota yang berbeda pun bisa berinteraksi di media sosial, sebut saja facebook.

Salah satu sebuah komunitas atau kelompok yang dinamakan Paguyuban Magelangan, yang anggotanya adalah orang orang asli dari kota Magelang. Sangat aktif sekali di media sosial, dengan anggota yang lumayan banyak, mereka saling ngobrol dan berbagi informasi seputar kotanya. Bahkan bagi yang sudah bertahun tahun tidak kembali ke daerah, merekapun bisa bernostalgia dan bertemu dengan  sahabat lamanya.

Paguyuban Magelangan ini sendiri sentralnya berada di Kota Magelang, Liza Erlina dan kawan kawan adalah koordinator Paguyuban.

Saat ditemuin cepamagz, Liza Erlina mengatakan,” Paguyuban Magelangan ini adalah wadah bagi orang Magelang dimanapun saja berada, tanpa memandang suku, golongan, pangkat dan jabatan. Anggotanya terdiri dari berbagai macam profesi, dari ibu rumah tangga, pegawai sipil, militer, dokter dan guru serta yang yang lain-lain.”

Dengan motto,” Guyub Rukun Saklawase,”, yang kurang lebih artinya selalu bersama sama, bersahabat sampai akhir hayat, dan lebih bermakna saling menjaga persatuan. Makin terasa bentuk kebersamaannya, dan rasa kedaerahan yang kuat.

“ Paguyuban ini dengan tegas melarang anggotanya saat ngobrol atau berkomunikasi di media sosial, memposting hal hal yang berbau POLITIK dan SARA,” imbuh Mas Sol dan Eko Yowie anggota yang lain.

Alasan melarang posting atau membahas hal hal yang berbau politik dan sara, bisa dimaklumi. Kedua hal tersebut selalu akan menimbulkan perdebatan dan pertentangan, sehingga anggota bisa saling adu argument dan berakibat konflik. Anggota lain pun tentunya akan tidak nyaman, kalau banyak perdebatan yang tidak penting, sehingga justru akan membuat perpecahan sesama anggota.

“ Tidak hanya berkumpul, kegiatan kegiatan yang positifpun dilakukan oleh Paguyuban.”

Bukan sekedar berkumpul dan bercanda saja, Paguyuban ini juga banyak melakukan hal hal positif yang sangat membantu masyarakat. Kegiatan Sosial, seperti santunan anak yatim, turut berpartispasi pengumpulan dana untuk korban bencana, Donor darah, serta kegiatan social yang lain.

Tidak hanya berjalan  sendiri, Paguyuban ini juga berinteraksi dengan kelompok kelompok yang lain, seperti  dengan Komunitas Kota Toea Magelang. Salah satunya kegiatan jelajah Kali Manggis, yang beberapa waktu lalu diadakan. Suatu kegiatan napak tilas saluran irigasi buatan Belanda yang sangat bermanfaat untuk pertanian di wilayah kota Magelang dan sekitarnya.

Semoga dengan banyaknya komunitas atau paguyuban yang menjadi wadah berkumpulnya orang orang satu daerah tdak hanya membuat suatu kelompok yang ekslusif, namun bisa menjadi wadah suatu kegiatan yang positif, seperti yang diamanatkan dalam UUD 45 dan Pancasila. Demi terciptanya kerukunan dan kedamaian di masyarakat. (int.cepamagz)

LEAVE A REPLY