Jakarta, 25 Oktober 2016

Empat anak buah kapal Indonesia yang disandera di Somalia selama lebih dari empat tahun mampu bertahan dan memiliki harapan untuk bebas dengan ‘ibadah dan solidaritas tinggi’, menurut pejabat Kedutaan Besar Indonesia di Kenya yang menjemput mereka.

Empat ABK Indonesia ini termasuk di antara 26 sandera yang dibebaskan hari Minggu (23/10) dan tengah diperiksa kesehatannya di ibu kota Kenya, Nairobi, sebelum dipulangkan ke Indonesia.

Para awak kapal dari Indonesia, Kamboja, Vietnam, Taiwan, Cina dan Filipina itu merupakan awak dari FV Naham 3, kapal milik Taiwan yang dioperasikan perusahaan Oman disandera setelah kapal mereka dibajak di selatan Seychelles bulan Maret 2012.

Keempat ABK Indonesia itu adalah Sudirman (24), Adi Manurung (32), keduanya asal Medan, Sumatera Utara, Supardi (34) asal Cirebon, Jawa Barat dan Elson Pesireron (32) asal Seram, Ambon.

“Beberapa dari mereka cukup taat beribadah, dan di antara mereka kompak, tidak hanya ABK dari Indonesia saja juga dari negara lain. (Dengan) rasa kebersamaan mental mereka lebih kuat. Mereka menyatu tak dipisahkan … dengan posisi seperti itu solidaritas sangat tinggi jadinya,” kata Yosi Iskandar, pejabat KBRI untuk perlindungan WNI.

“Itu yang mereka bilang membuat mereka tetap bersemangat untuk hidup dan punya keyakinan suatu hari nanti bisa bebas. Tentunya kadang-kadang keputusasaan ada. Tapi berbagai perkembangan … menimbulkan semangat hidup mereka,” tambahnya.

Uang tebusan dibayar pemilik kapal

Para sandera dari berbagai negara ini diangkut dari tempat penyanderaan yang sangat terpencil, sekitar enam jam dengan kendaraan ke kota Galkayo, dan baru kemudian diterbangkan ke kota Wajir, perbatasan Somalia, kata Yosi.

dinya ada lima sandera WNI, satunya meninggal dunia karena malaria.

Dari cerita para ABK, kata Yosi, mereka juga menyaksikan konflik yang rentan di seputar Somalia dan harus bertahan dengan persediaan air dan makanan yang sangat terbatas.

“Tekanannya lebih banyak keterbatasan air, karena daerahnya kering, karena penyediaan air yang terbatas. Makanan yang diberikan juga sangat terbatas, tapi satu hal yang mereka sampaikan adalah perompaknya tidak melakukan kekerasan fisik, mungkin karena menganggap sebagai aset bagi mereka.”

Memasak tikus di hutani Taiwan mengatakan di tengah cuaca yang panas mereka tidak mendapatkan makanan yang mencukupi.

“Mereka mengatakan mendengar suara tembakan karena terjadinya perang antarsuku. Tapi mereka tak kena dampak langsung. Sering terjadi kontak senjata (di seputar tempat mereka disandera), yang membuat mereka waswas dan khawatir,” tambahnya.

Sejumlah komentar terkait pembebasan ini melalui Facebook BBC Indonesia termasuk dari Kristiana yang menyebutkan, “Semoga segera berkumpul dengan keluarga, pulih traumanya,” dan Trisman Achwa yang mengatakan, “Jadi kemana selama ini negara, ada rakyanya disandera sampai lima tahun…”

Yosi Iskandar menyebutkan pemerintah Indonesia sejak 2012 selalu ikut terlibat dalam proses negosiasi pembebasan bersama sejumlah negara asal ABK lain. Namun ia mengatakan tidak mengetahui apakah ada uang tebusan dalam pembebasan itu.

Sementara Kementerian Luar Negeri Taiwan mengatakan para ABK dibebaskan setelah uang jaminan dibayar oleh pemilik kapal dan juga sejumlah organisasi yang dikontrak untuk berunding dengan perompak, menurut media Taiwan.

Salah seorang ABK asal Filipina, Arnel Balbero, mengatakan mereka merasa seperti ‘mayat hidup’ pada masa-masa akhir penyanderaan mereka.

Balbero mengatakan kepada BBC, “Para perompak memberikan air sedikit … kami makan tikus. Ya, kami masak tikus di hutan.”

“(Kami) makan apa saja, apa saja. Saat lapar, kami makan,” tambahnya.

Ia juga bercerita tentang kesulitan beradaptasi dengan kehidupan setelah penyanderaan lama itu.

Para ABK yang dibebaskan ini diduga termasuk sebagian dari mereka yang diculik perompak Somalia setelah gelombang pembajakan pada pertengahan tahun 2000.

Salah seorang penyintas lain muncul dalam video yang diambil oleh perompak pada 2014 untuk menunjukkan bahwa para ABK masih hidup.

Video yang dikeluarkan oleh seorang pejabat Taiwan yang ikut serta dalam perundingan pembebasan menunjukkan sejumlah pria yang kurus dan dikelilingi oleh pria bersenjata.

Salah seorang ABK yang disebut media Taiwan sebagai Shen-Jui-chang, mengatakan bahwa mereka hanya diberi satu liter air di tengah teriknya udara.

“Tak ada air, tak ada makanan, kami semua sakit.”

“Perompak tidak memberikan obat karena tak punya uang untuk membeli obat. Akibatnya dua orang meninggal,” katanya.(bbc/intop)

 

LEAVE A REPLY